Satu buku keren karya Nono Warnono hadir beberapa hari menjelang Ramadan 1447 H/2026 M. Buku itu berjudul “Nahdlatul Ulama Era Digital: Kiprah PCNU Bojonegoro & MWCNU Baureno dalam Perspektif Sejarah”, diterbitkan oleh LTN NU MWCNU Baureno bekerja sama dengan Penerbit Nuntera.
Ada beberapa makna penting dari kehadiran buku ini, namun setidaknya saya hendak mengemukakan dua hal saja. Pertama, soal tradisi riset di kalangan Nahdliyin. Nono Warnono sebenarnya lebih dikenal sebagai sastrawan. Namun, ia mampu membuktikan bahwa seorang sastrawan juga adalah seorang peneliti.
Buku ini disusun melalui riset panjang selama lebih dari setahun. Dalam prosesnya, penulis bernama asli Suwarno ini menyusun data sejarah, menelusuri kebenaran, mewawancarai narasumber, dan merangkainya kembali menjadi buku. Proses sunyi itu dilakukannya dalam “keheningan”, nyaris tanpa riuh di media sosial.
Tradisi riset menjadi krusial di tengah era digital yang sering kali mengandalkan kecepatan namun dangkal. Lewat buku ini, Nono Warnono secara tidak langsung mengingatkan Nahdliyin untuk selalu mengedepankan logika berpikir mendalam. Langkah ini sebenarnya meneladani cara para ulama masa lalu, sebab menulis adalah tradisi para intelektual.
Meskipun berfokus pada wilayah Kecamatan Baureno, Bojonegoro, Nono juga membeberkan sejarah NU tahun 1926 dan awal mula NU di Bojonegoro sebagai pengantar. Hal ini memudahkan pembaca menangkap konteks sejarah secara utuh sebelum masuk ke detail tokoh lokal.
Riset mendalam model begini kian tenggelam di era digital, apalagi di tengah gempuran artificial intelligence (AI). Banyak organisasi atau individu lebih senang “bertarung” gagasan lewat media sosial secara spontan dan sporadis, hingga melupakan kerja riset. Padahal, mengembangkan tradisi riset berarti mengembangkan tradisi berpikir.
Makna kedua adalah tentang nilai lokalitas. Buku ini seakan menampar kesadaran kita. Kita sering terlena oleh kehebatan tokoh dunia atau nasional, namun melupakan tokoh-tokoh hebat yang ada di depan mata kita sendiri.
Kisah para kiai di Baureno ini membuktikan betapa banyak permata yang terlewatkan karena tak ada yang menulisnya. Nono Warnono berhasil menghadirkan kembali semangat mereka untuk masa kini dan masa depan.
Ambil contoh Mbah Kramat Dandang di Desa Gajah. Sebelumnya, hampir tidak ada literatur yang menulis tentang beliau. Nono berhasil menelusuri kisahnya: seorang ulama Timur Tengah (Syekh Tohirun) yang berdakwah di zaman Majapahit. Ia memiliki cara unik, yakni menyamar sebagai pembuat dandang dan memberikannya cuma-cuma kepada warga yang bersedia memeluk Islam. Syekh Tohirun konon merupakan keturunan Nabi Muhammad, sementara istrinya, Nyi Ngatipah, adalah keturunan Raja Majapahit.
Berkat riset ini, generasi sekarang bisa memetik pelajaran dari perjalanan hidup tokoh-tokoh sekitar. Ini adalah amal jariyah yang nyata bagi penulis.
Buku ini tidak sekadar mengikat cerita, tapi juga membangkitkan nyala semangat untuk terus meneliti masa lalu demi masa depan. Dalam konteks gerakan literasi di Bojonegoro, kehadiran buku ini memperkaya khazanah sejarah lokal yang harus terus dikampanyekan sebagai upaya merawat identitas. Selamat membaca!

