Di sebuah sudut Kota Tuban, tepatnya di Kelurahan Kutorejo, aroma rempah yang tajam dan menggugah selera selalu menyeruak setiap kali matahari mulai condong ke barat di bulan Ramadan. Sumber aroma itu berasal dari halaman Masjid Al-Muhdhor, tempat di mana sebuah tradisi kuliner berusia hampir satu abad tetap terjaga kemurniannya. Di sana, kepulan uap panas membumbung dari sebuah kenceng atau panci tembaga raksasa setinggi satu meter.
Di sekeliling panci tersebut, lima orang pria paruh baya tampak sibuk. Peluh membasahi dahi mereka saat tangan-tangan kekar itu bergantian mengaduk isi panci menggunakan centong kayu besar yang bentuknya lebih menyerupai dayung perahu. Proses pengadukan ini bukanlah pekerjaan ringan; dibutuhkan waktu sekitar tiga jam nonstop agar adonan bubur tidak mengerak di dasar panci dan tingkat kematangannya merata sempurna. Stamina yang prima menjadi syarat mutlak bagi para pembuatnya, karena bubur ini bukan sekadar masakan biasa, melainkan sebuah warisan sejarah yang dijaga dengan fisik dan hati.
Warisan Habib dan Strategi Melawan Kelaparan
Bubur Muhdor bukanlah kudapan sembarangan. Resep legendaris ini merupakan ciptaan Habib Abdul Qodir bin Alwi Aseggaf, seorang tokoh terkemuka keturunan Timur Tengah yang menetap di Tuban. Penamaan “Muhdor” merujuk pada lokasi masjid tempat bubur ini diproduksi secara eksklusif. Keunikan ini membuatnya menjadi kuliner yang sangat langka; Anda tidak akan menemukan bubur dengan cita rasa dan metode pembuatan yang serupa di penjuru Nusantara lainnya, kecuali di kompleks Masjid Al-Muhdhor ini.
Jika ditarik garis sejarahnya, kemunculan Bubur Muhdor berkaitan erat dengan kondisi tanah air di masa lampau. Tradisi ini dimulai sekitar tahun 1930-an, sebuah era di mana Indonesia masih berada di bawah belenggu penjajahan kolonial Belanda. Saat itu, masyarakat Tuban dan sekitarnya didera krisis pangan yang berkepanjangan akibat tekanan ekonomi dan perang. Dalam kondisi yang serba terbatas tersebut, para tokoh agama di Masjid Al-Muhdhor berinisiatif menciptakan masakan yang bergizi tinggi namun dapat dibagikan secara massal.
Lebih dari sekadar pengganjal perut, pada masa perjuangan, bubur ini juga menjadi sumber energi bagi para tentara rakyat dan pejuang yang bertaruh nyawa melawan penjajah demi menegakkan kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Seiring berjalannya waktu, fungsi bubur ini bergeser menjadi tradisi tahunan yang sakral untuk menjaga sekaligus melestarikan warisan nenek moyang di setiap bulan suci Ramadan.
Rahasia Dapur dan Keahlian yang Terjaga
Banyak yang bertanya-tanya, apa yang membuat Bubur Muhdor begitu fenomenal? Jawabannya terletak pada bahan baku berkualitas dan teknik memasak yang sangat spesifik. Untuk membuat satu porsi besar dalam satu kenceng, panitia masjid menyiapkan setidaknya 30 kilogram beras pilihan dan 20 kilogram daging sapi kualitas super. Tidak lupa, berbagai macam rempah-rempah tradisional khas Timur Tengah diracik sedemikian rupa untuk menghasilkan aroma yang kuat dan rasa yang gurih.
Namun, resep bukanlah satu-satunya kunci. Takmir Masjid Al-Muhdhor menekankan bahwa pembuatan bubur ini memerlukan keahlian khusus yang tidak dimiliki semua orang. Bahkan, warga keturunan Arab yang tinggal di sekitar kota pun belum tentu bisa meracik takaran bumbu yang pas jika tidak memiliki pengalaman atau bimbingan dari para sesepuh.
Proses pembuatan dimulai sejak pagi hari. Mula-mula, beras dimasak dengan takaran air yang pas di atas tungku api tradisional. Penggunaan tungku dengan bara api dari kayu bakar tertentu diyakini menjadi faktor penentu kematangan yang sempurna—sesuatu yang sulit dicapai jika menggunakan kompor modern. Setelah adonan nasi mulai melunak dan dinilai setengah matang, barulah rempah-rempah rahasia, cincangan daging sapi yang melimpah, serta tulang-tulang sapi dimasukkan. Perpaduan lemak dari tulang dan aroma rempah inilah yang menciptakan lapisan rasa yang kaya.
Simbol Solidaritas di Jalan Pemuda
Setelah proses panjang selama berjam-jam, bubur yang telah matang tidak langsung dibagikan. Panitia akan menunggunya hingga agak mendingin agar teksturnya lebih set dan aman untuk dikonsumsi. Sekitar pukul 17.00 WIB, suasana di Jalan Pemuda, tempat masjid ini berada, mulai berubah menjadi lautan manusia. Warga sekitar sudah hafal betul kapan waktu yang tepat untuk datang mengantre.
Pemandangan di sini sangat unik. Puluhan, bahkan ratusan warga berdesak-desakan dengan antusias. Menariknya, peminat Bubur Muhdor tidak terbatas pada kalangan tertentu saja. Jika biasanya antrean makanan didominasi oleh ibu-ibu, di sini kaum pria, remaja, hingga anak-anak rela berhimpitan. Mereka datang dengan membawa berbagai macam wadah dari rumah; mulai dari piring dan mangkuk plastik, hingga panci besar dan ember kecil.
“Dulu awalnya memang dikhususkan untuk takjil atau sajian berbuka bagi warga yang fakir dan tidak mampu. Namun, karena cita rasanya yang sangat lezat dan banyak orang yang suka, sekarang siapa pun kami perbolehkan untuk menikmati bubur ini tanpa terkecuali,” ujar Abdullah (45), salah seorang panitia yang terlibat langsung dalam proses pembuatan.
Semangat berbagi ini didukung penuh oleh para donatur. Masalah dana tidak pernah menjadi hambatan bagi panitia Masjid Al-Muhdhor. Sumbangan mengalir secara sukarela, tidak hanya dari warga lokal Tuban, tetapi juga dari donatur luar daerah yang ingin ikut serta dalam menjaga tradisi sedekah ini.
Kaitan dengan Bubur Sunan Bonang
Menarik untuk dicatat bahwa tradisi serupa juga tumbuh di sisi lain Kota Tuban, tepatnya di Masjid Astana yang berada di kompleks makam Waliullah Sunan Bonang. Menggunakan dasar resep yang hampir mirip dengan Bubur Muhdor, kudapan di sana kemudian dikembangkan dengan sentuhan lokal dan lebih dikenal masyarakat dengan nama Bubur Sunan Bonang. Kedua jenis bubur ini menjadi bukti betapa kuatnya pengaruh akulturasi budaya Timur Tengah dan Jawa dalam memperkaya khazanah kuliner religius di Tuban.
Hingga saat ini, tradisi Bubur Muhdor tetap terjaga kelestariannya melampaui zaman. Ia bukan sekadar takjil pembuka puasa, melainkan simbol perlawanan terhadap kelaparan di masa lalu dan simbol persaudaraan umat di masa kini. Setiap suapan Bubur Muhdor membawa ingatan kolektif masyarakat Tuban pada nilai-nilai luhur yang diajarkan oleh para leluhur: bahwa dalam semangkok bubur, ada keberkahan, kerja keras, dan semangat berbagi yang tak pernah padam.

